Pramono Sebut Operasi Modifikasi Cuaca Tekan Polusi Jakarta Selama Jakarta Running Festival dan Konser Kanye West

## Klaim Penurunan Polusi Udara di Tengah Dua Acara Besar

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan bahwa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) berperan menekan polusi udara di ibu kota selama dua hari digelarnya Jakarta Running Festival (JRF) dan konser Kanye West, 24–25 Oktober. Pernyataan itu disampaikan di Museum Sumpah Pemuda, Jakarta Pusat, pada Minggu (25/10), usai ia memantau langsung kondisi udara pada pagi hari saat pembukaan ajang lari.

Menurut Pramono, indeks kualitas udara Jakarta berada di angka 61 saat flag-off kategori full marathon JRF sekitar pukul 04.00. Angka itu kemudian naik menjadi 68, lalu mencapai 80 pada siang hari. Ia menilai rentang tersebut mencerminkan kondisi polusi yang relatif rendah dibandingkan beban polusi yang kerap menjadi persoalan kronis di Jakarta.

“Selama ini yang selalu menjadi beban adalah mengenai cuaca. Tapi alhamdulillah selama dua hari, dan tadi pagi saya mengalami sendiri ketika jam 4 membuka flag-off untuk full marathon, kita di angka 61 kemudian naik menjadi 68 dan ketika siang 80,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa angka tersebut menunjukkan kondisi udara atau polusi di Jakarta “rendah sekali” pada periode tersebut.

## Hujan Terkendali di Sejumlah Wilayah, GBK Dikecualikan

Pramono menjelaskan bahwa hujan turun di sejumlah kawasan, termasuk wilayah perbatasan Jakarta, Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, hingga Menteng di Jakarta Pusat. Sebaliknya, kawasan Gelora Bung Karno (GBK) sengaja tidak diguyur hujan agar konser Kanye West (Ye) tidak terganggu.

Ia menekankan bahwa secara teknis hujan di GBK bisa diturunkan, namun keputusan itu tidak diambil demi kelancaran acara. “Kalau kita mau sebenarnya bisa kita turunkan hujan di GBK, tapi kan akan mengganggu konser yang ada sehingga di GBK kemarin sama sekali tidak tersentuh hujan, tapi di beberapa daerah lainnya tersentuh hujan,” katanya.

Pendekatan selektif ini menggambarkan upaya Pemprov DKI menyeimbangkan tujuan perbaikan kualitas udara dengan kebutuhan penyelenggaraan acara berskala besar yang menarik perhatian publik dan wisatawan.

## Konteks Perintah OMC Jelang Acara Internasional

Sebelumnya, pada Rabu (21/10) di Balai Kota, Pramono telah memerintahkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta untuk menjalankan OMC pada 22–23 Oktober. Langkah itu disiapkan menjelang dua acara yang disebutnya bersifat internasional: Jakarta Running Festival dan konser Ye pada 24–25 Oktober.

Perintah dini tersebut menunjukkan perencanaan operasional yang dikaitkan langsung dengan kalender event ibu kota. OMC diposisikan sebagai instrumen jangka pendek untuk meredam polusi agar aktivitas olahraga massal dan hiburan luar ruangan berlangsung dalam kondisi udara yang lebih nyaman.

## Anggaran dan Potensi Kelanjutan Operasi

placeholder

Pramono menegaskan bahwa OMC berpotensi dilanjutkan selama kondisi awan masih mencukupi. Pemprov DKI, menurutnya, telah mengalokasikan anggaran khusus untuk operasi tersebut. “Ya kalau selama masih ada awan yang cukup, pasti kita akan turunkan hujan, karena memang bagaimanapun Pemerintah DKI Jakarta telah mengalokasikan budget untuk melakukan OMC,” ujarnya.

Ia menilai dampak ganda dari operasi ini: penurunan polusi sekaligus peningkatan kenyamanan warga. Ia menyinggung suasana di JRF pada pagi hari, di mana peserta dinilai bergembira karena udara terasa lebih enak. “Dan kita melihat dengan OMC ini polusinya turun, masyarakatnya juga lebih happy,” katanya.

## Implikasi bagi Tata Kelola Udara dan Event di Jakarta

Pernyataan gubernur ini menempatkan modifikasi cuaca sebagai salah satu respons operasional terhadap polusi udara, terutama saat ibu kota menyelenggarakan event besar. Dalam jangka pendek, pendekatan itu dapat menopang kelancaran acara olahraga dan hiburan serta citra Jakarta sebagai tuan rumah.

Namun, ketergantungan pada ketersediaan awan dan alokasi anggaran berulang juga mengisyaratkan bahwa OMC bersifat situasional, bukan solusi struktural tunggal. Efektivitasnya tetap terkait kondisi meteorologis, cakupan wilayah hujan, serta pengukuran polutan yang konsisten di berbagai titik pemantauan.

Bagi publik dan pelaku event, klaim penurunan indeks udara pada 24–25 Oktober menjadi rujukan bahwa intervensi cuaca dapat memengaruhi kenyamanan kegiatan luar ruangan. Bagi pemangku kebijakan, pengalaman dua hari tersebut dapat menjadi bahan evaluasi: sejauh mana OMC perlu digabungkan dengan kebijakan pengurangan emisi, pengaturan lalu lintas, dan pemantauan kualitas udara yang lebih berkelanjutan di DKI Jakarta.

Secara keseluruhan, narasi Pramono mengaitkan tiga elemen sekaligus—operasi teknis BPBD, kalender acara internasional, dan persepsi kenyamanan warga—sebagai argumen bahwa modifikasi cuaca membantu menekan polusi selama JRF dan konser Kanye West berlangsung.

Share