Trump Sempat Pertimbangkan Membunuh Maduro

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pihaknya sempat mempertimbangkan kemungkinan membunuh Presiden Venezuela Nicolas Maduro saat operasi penculikannya. Seperti dilansir Sputnik dan dikutip Antara, pernyataan itu memicu sorotan internasional dan memperdalam ketegangan terkait tindakan AS di negara Amerika Latin itu.

“Itu bisa saja terjadi,” kata Trump kepada wartawan pada Sabtu, menjawab pertanyaan apakah opsi pembunuhan dipertimbangkandalam operasi tersebut.

Trump menambahkan bahwa Maduro berupaya melarikan diri ke tempat yang dianggap aman selama operasi AS berlangsung, tetapi gagal.

Baca Juga : Dewan keamanan PBB Akan adakan Pertemuan Senin Mendatang

Kronologi Penculikan Maduro

Dalam pernyataan terpisah yang dilansir ABC News, Jenderal Dan Caine, ketua Kepala Staf Gabungan, mengatakan bahwa Maduro dan istrinya, Cilia Flores, yang menurut AS telah didakwa, ditahan oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat dengan dukungan militer AS.

Operasi itu, klaim Caine, dijalankan dengan “profesionalisme dan presisi” tanpa menimbulkan korban jiwa di pihak Amerika Serikat.

Caine mengatakan bahwa lebih dari 150 pesawat terlibat, termasuk pesawat tempur, pesawat pembom, pesawat pengintai, pesawat intelijen, dan helikopter. Dia mengatakan seluruh pasukan gabungan terlibat dalam misi tersebut (Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, Marinir, Angkatan Luar Angkasa, dan badan intelijen).

Dia mengatakan bahwa pesawat-pesawat itu lepas landas dari 20 pangkalan berbeda di darat dan di laut, dan pesawat pendukung juga terlibat.

Presiden Donald Trump memberikan perintah untuk menjalankan misi tersebut pada pukul 10:46 malam, Jumat malam, kata Caine. Ia mengatakan pesan presiden “Semoga berhasil dan Tuhan memberkati” disampaikan kepada seluruh pasukan.

Pasukan evakuasi yang menculik Maduro dan istrinya termasuk aparat penegak hukum AS.

Helikopter-helikopter yang membawa pasukan tersebut terbang pada ketinggian 100 kaki di atas permukaan air saat mendekati Venezuela.

Saat mendekat, sistem pertahanan udara dinonaktifkan untuk memastikan jalur aman helikopter menuju kompleks Maduro, kata Caine.

Helikopter-helikopter itu tiba di kompleks tersebut pada pukul 1:01 pagi waktu bagian timur, pukul 2:01 pagi waktu setempat.

Setibanya di sana, mereka diserang tembakan dan membalas dengan “kekuatan luar biasa” untuk membela diri, kata Caine.

Salah satu helikopter terkena tembakan, tetapi masih bisa terbang.

Ketika helikopter meninggalkan kompleks tersebut, mereka dilindungi oleh pesawat tempur dan drone yang memberikan tembakan perlindungan.

Pasukan penculik berada di atas perairan pada pukul 3:39 pagi waktu bagian timur, kata Caine. Maduro dan istrinya kemudian dibawa ke USS Iwo Jima dan kemudian dibawa ke Amerika Serikat.

Share